GN-RHL 2006 – Simalungun

PENDAMPINGAN

 

P

 

elaksanaan kegiatan pendampingan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Simalungun dilaksanakan berdasarkan surat Keputusan Bupati Simalungun tentang Pembentukan dan Penetapan Tim Pendamping Kelompok Tani GN-RRHL DIPA Tahun 2006 Kabupaten Simalungun.

Dalam rangka peningkatan kelembagaan bagi LSM Pendampingi untuk kegiatan pendampingan kelompok tani dalam pelaksanaan GN-RHL/GERHAN tahun 2006 di Kabupaten Simalungun, Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Wampu Sei Ular melalui Dinas Kehutanan Kabupaten Simalungun, telah melaksanakan pembekalan petugas fasilitator/pendamping kelompok tani GN-RHL/GERHAN tahun 2006.

Pembekalan yang dilaksanakan di Kabupaten Deli Serdang selama 2 hari diisi dengan berbagai materi yang terkait dalam suksesnya pelaksanaan GN-RHL/GERHAN.

Kegiatan ini juga merupakan salah satu ajang bagi sesama fasilitator/pendamping kelompok tani dari daerah lain untuk berbagai pengalaman dan pikiran seperti tim pendamping dari daerah Kabupaten Langkat, Binjai, dan Deli Serdang.

Fokus pembekalan pada materi penguatan kelembagaan dan fungsi sebagai pendamping seperti (i) menjaga semangat, kemauan, ide-ide dan gagasan kelompok tani agar tetap tinggi sehingga GERHAN berjalan lancar; (ii) memacu dan meningkatkan kegiatan kelompok tani sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan kelompok tani; (iii) mengurangi, menghentikan dan mengingatkan apabila ada kegiatan atau sikap yang menyimpang dan mendukung GERHAN; (iv) menyelesaikan konflik dan ketegangan yang merugikan kelompok tani; (v) membantu kelompok tani dalam menghadapi permasalahan khususnya pelaksanan GERHAN; (vi) membimbing kelompok tani untuk mencapai tujuan yang telah disepakati bersama; (vii) mengembangkan jaringan kerjasama dalam kelompok tani dan antar kelompok, instansi terkait, lembaga keuangan, dan mitra usaha.

                            Kelompok Pelestari Sumber Daya Alam

                             ARIH ERSADA”

TAMBAK BAWANG – Nagori Bawang – Kec. Dolok Silau

 

 

 þ  Marulam Simarmata, SP

      Tenaga Peneliti/Pengabdi LPPM -USI

þ  telah mengikuti berbagai even kegiatan kehutanan dan Perhutanan Sosial

   

 

 

 

 

 

 

 

 

Catatan Kegiatan Pendampingan :

KPSDA “ARIH ERSADA” merupakan kelompok tani yang melaksanakan kegiatan pembuatan hutan rakyat dengan luas 50 hektar di lokasi Tambak Bawang.

KPSDA “ARIH ERSADA” dibentuk oleh dan untuk masyarakat Nagori Bawang atas dasar kekeluargaan untuk tujuan membangun kualitas kesejahteraan hidup bersama untuk masa depan.

KPSDA “ARIH ERSADA” dibawah kepemimpinan Masmur Tarigan telah menyelesaikan kegiatan penanaman hutan rakyat pada kegiatan GN-RHL/GERHAN tahun 2006 luncuran 2007sesuai dengan luas target yang ditetapkan.

Dalam melaksanakan program GN-RHL/GERHAN tahun 2006 ini, kelompok ini merasakan bahwa kegiatan tersebut memberikan banyak manfaat terutama dalam peningkatan pendapatan keluarga melalui kegiatan penanaman.

Beberapa permasalahan dan hambatan yang dihadapi di lapangan hampir tidak berarti dalam menghambat kegiatan. Harapan dari kelompok hendaknya kelompok yang telah dibentuk ini mendapay dukungan dari instansi lain untuk pengembangan dan peningkatan pendapatan masyarakat khususnya anggota kelompok ARIH ERSADA. Disamping itu untuk kegiatan GN-RHL/GERHAN berikutnya adalah pengembangan kegiatan pembangunan hutan rakyat, hal ini melihat potensi yang terdapat didaerah sekitar berpeluang dikembangkan pola hutan rakyat. Ada tekad bagi kelompok untuk melakukan kampanye terhadap bahaya kebakaran di kawasan yang telah ditanam.

Penilaian terhadap kegiatan yang dilakukan oleh kelompok dalam GN-RHL/GERHAN tahun 2006 cukup bagus, hal ini didukung dengan keterpaduan seluruh anggota dan pengurus dalam pelaksanaan kegiatan.

Tambak bawang adalah daerah perbatasan Tanah Karo dan Simalungun yang memiliki jumlah penduduk sebesar 100 KK yang bermata pencaharian bertani, dengan komoditi tanaman yang ditanam yaitu Jeruk, Padi, Jagung Dan Kopi serta beternak dimana hasil pertanian yang diperoleh dijual ke Tanah Karo yang berjarak 14 Km dari desa yang jalannya sangat rusak.

Masyarakat Tambak memiliki pendidikan yang minim, hal ini dapat dilihat dari demografi penduduk berdasarkan tingkat pendidikan.

Nagori Tambak memiliki 1 unit SD dan 1 unit balai pertemuan, dan juga penghasilan rata-rata masyarakatnya perbulan sebesar Rp. 600.000 yang diperoleh dari kegiatan pertanian.

Nagori Tambak memiliki 1 unit lembaga perekonomian yaitu KUD Suranta, yang dalam kegiatannya membantu masyarakat dalam membantu permodalan dan tempat penyimpanan uang.

Kegiatan GNRHL yang dilaksanakan di Bawang, dimanfaatkan juga dalam membuka jalan sepanjang 7 km. Hal ini dilakukan oleh kelompok Arih Ersada dalam rangka memudahkan pengangkutan bibit ke areal tanam, sehingga dengan demikian juga akan membuka akses ke lokasi pertanian kelompok. Pembukaan jalan ini dilakukan oleh kelompok dengan swadaya.

Kegiatan penanaman dilakukan pada saat musim kemarau, masyarakat melakukan pembakaran terlebih dahulu pada lokasi penanaman, yang diharapkan kegiatan ini akan dapat mengatasi terjadinya kebakaran setelah tanaman ditanam.

Masyarakat tambak Bawang mengharapkan agar dana perawatan turun sekali 3 bulan agar perawatan dapat dilakukan sebaik mungkin.

Masyarakat menginginkan agar Dinas Kehutanan mampu mengembangkan SDM yang ada di lingkungan Bawang dengan memberikan kegiatan tambahan seperti lebah madu yang sangat berpotensi dikembangkan didaerah tersebut, serta diharapkan agar didirikannya DAM penahan yang mana untuk mencegah terjadinya banjir yang pernah mereka alami, yang merusak tanaman padi mereka.

Disamping itu, fasilitas kesehatan seperti Puskesmas sangat diharapkan oleh masyarakat, karena sulitnya transportasi dari dan ke desa Bawang.

Kelompok Arih Ersada dibawah kepemimpinan Masmur Tarigan beserta anggota kelompok akan berusaha untuk menjadi kelompok tani yang berpotensi mampu untuk berhasil mengembangkan GERHAN sebaik mungkin. Selengkapnya disajikan profil dari Masmur Tarigan (si ”Pawang Api”)

Pengalaman dalam kegiatan Rehabilitasi Lahan dan Hutan :

·   Penanaman dilakukan secara mandiri yang dimulai dari tahun 1974 sampai 1975, bibit berasal dari Pangaribuan yang dibawa ke Tambak bawang dengan menggunakan Traktor dan alat – alat manual lainnya seperti beko dan keranjang.  pananaman dilakuakan disekitar dikawasan hutan yang saat ini hasilnya sudah dapat dimanfaatkan oleh masyarakat setempat, dan hasil hutan tersebut juga dimanfaatkan oleh Dinas kehutanan sebagai kawasan buffer zone dan catchment area.

·   Hutan yang dikelola Masmur Tarigan merupakan kawasan penahan erosi dan banjir yang juga berfungsi sebagai penahan aliran permukaan tanah dan   menjaga infiltrasi tanah yang terdapat di desa Dolok Silau. Hutan ini juga mempengaruhi jumlah debit air aliran Sungai Ular, Sungai Wampu sampai di Bahorok, yang mana pada saat banjir bandang melanda  Bahorok, masyarakat Tambak Bawang juga mengalami hal yang sama yaitu lahan persawahan  mereka yang dialiri arus sungai mengalami kerusakan.

·   Sebagai ketua kelompok tani Arih Ersada ia berhasil membawa kelompok taninya menjadi pelaksana penanaman GERHAN periode 2005 – 2006 menjadi kelompok tani terbaik yang tanamannya tumbuh dengan baik dan subur secara menyeluruh.

 

Masyarakat Bawang menjulukinya dengan sebutan ‘Pawang Api , julukan itu ia dapat karena dikawasan hutan Tambak Bawang tidak pernah terjadi kebakaran hutan yang serius. Walaupun sampai saat ini tidak ada satu penghargaan pun yang ia terima, namun dia selalu mengantisipasi agar tidak terjadi kebakaran hutan. Banyak cara dan ide yang selalu pikirkan dan diaplikasikan untuk mengantisipasi agar tidak terjadi kebakaran hutan di kawasan ini.

 

                            Kelompok Pelestari Sumber Daya Alam

                                      RIAHDO”

SIMPANG BAGE – Nagori Sinar Naga Maariah – Kec. Pamatang Silimahuta

 

 

 

 þ  Sophan S. Ginting

      Mahasiswa Fak. Pertanian –

Universitas Simalungun, duduk di semester VII

þ  telah mengikuti berbagai even kegiatan pengabdian kepada masyarakat di LPPM USI, baik sebagai surveyor maupun teknisi

þ  GN-RHL tahun 2006 merupakan kegiatan ketiga kali, sebagai pendamping /fasilitator

   

 

 

 

 

 

 

 

 

Catatan Kegiatan Pendampingan :

KPSDA “RIAHDO” merupakan kelompok tani yang melaksanakan kegiatan reboisasi di kawasan gunung Sipiso-piso dengan luas 50 hektar di lokasi Bage.

KPSDA “RIAHDO” dibentuk oleh dan untuk masyarakat Nagori Sinar Naga Mariah atas dasar kekeluargaan untuk tujuan membangun kualitas kesejahteraan hidup bersama untuk masa depan.

KPSDA “RIAHDO” dibawah kepemimpinan Judiman Girsang telah menyelesaikan kegiatan penanaman reboisasi pada kegiatan GN-RHL/GERHAN tahun 2006 luncuran 2007sesuai dengan luas target yang ditetapkan.

Dalam melaksanakan program GN-RHL/GERHAN tahun 2006 ini, kelompok ini merasakan bahwa kegiatan tersebut memberikan banyak manfaat terutama dalam peningkatan pendapatan keluarga melalui kegiatan penanaman.

Beberapa permasalahan dan hambatan yang dihadapi di lapangan hampir tidak berarti dalam menghambat kegiatan. Harapan dari kelompok hendaknya kelompok yang telah dibentuk ini mendapay dukungan dari instansi lain untuk pengembangan dan peningkatan pendapatan masyarakat khususnya anggota kelompok RIAHDO.

Bage merupakan daerah pertanian yang terletak dikawasan gunung Sipiso-piso yang memiliki 220 kk yang merupakan jalan lintas munuju Tanah Karo, masyarakat Bage bermata pencarian sebagai petani dan ada juga sebagian yang bekerja di kantor pemerintahan setempat, adapun komoditi yang  ditanam masyarakat berupa tanaman sayuran seperti Kubis Kentang Wortel, seta tanaman keras kopi.

Masyarakat Bage  memiliki tingkat pendidikan yang lumayan  tinggi. Tingkat pendapatan masyarakat sebesar Rp. 750.000 perbulan.

Masyarakat Bage tidak memiliki KUD didaerahnya tetapi mengikuti anggota KUD yang terletak di Pematang Silima Huta yang sangat membantu masyarakat didalam pengolahan lahan pertanian dengan cara meminjam awal dengan bunga yang sangat sedikit.

Bage merupakan daerah yang berdataran tinggi yang berada 1100 DPL yang mendapatkan yang mendapatkan GN-RHL/ GERHAN pada periode 2007, dengan target reboisasi hutan yang terletak di gunung Sipiso-piso dengan luas 50 hektar.

Penanaman memakan waktu selama 2 bulan pengerjaan dengan kemiringan 70 derajat  dengan menanam tanaman Macadamia sebagi sekat  bakar untuk penangulangan kebakaran hutan yang sering terjadi serta memperbaiki struktur tanah.

Penanaman dilakukan dengan penyewaan sebagian tenaga kerja dari luar dimana kelompok tani kurang berminat dengan gaji yang ditawarkan proyek. Harapan masyarakat mereka menginginkan agar pelaksanaanya dilakukan oleh kelompok tani dengan gaji yang lumayan tinggi sesuai kawasan yang terjal, mereka minginginkan struktur sarana pertanian yang dapat membantu mereka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s