REKAYASA TEKNOLOGI INTENSIFIKASI DIFUSI DAN DAMPAKNYA TERHADAP PENDAPATAN USAHATANI PADI SAWAH

Rosmadelina, Ir., MP

Rosmadelina, Ir., MP

KESIMPULAN DAN SARAN

 

 

Berdasarkan hasil survey yang telah diuraikan, dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :

 

1.           Kesimpulan

 

A.           Teknologi Intensifikasi

 

1)        Benih yang digunakan petani adalah benih yang bersertifikat, jenis varitas unggul baru.

2)        Pengolahan tanah  mengikuti prinsip pengolahan tanah sempurna, pada umumnya satu kali membajak, satu kali menggaru dan sebagian kecil meratakan satu kali.

3)        Penanaman

           Umur bibit pindah tanam secara umum sudah  mengikuti    petunjuk, untuk varitas Mikongga yaitu 21 hari sedangkan      untuk varitas Ciherang umur 18 hari

           Sistem jarak tanam: Sistem jarak tanam yang diterapkan adalah tandur jajar dengan bervariasi 20 cm x 20 cm; 15 cm x 20 cm atau 15 cm x 25 cm.

           Pemupukan: Pemupukan belum mengikuti petunjuk pemupukan berimbang.

           Pengendalian Organisma Penggangu Tanaman: Pengendalian Organisma Penganggu tanaman secara umum  tidak mengikuti pengendalian secara terpadu, tetapi masih    mengutamakan pengendalian dengan pestisida.

           Pemanenan: Pemanenena sudah dilakukan menurut petunjuk pengelolaan tanaman terpadu

 

B.           Difusi teknologi

1)        Kondisi sosial ekonomi petani sasaran penyuluhan

Lokasi Nagori Marjandi Pisang terdiri dari 20 responden yang tergabung dalam 4 kelompok tani. Pamatang Panombean 28 responden yang terdiri dari 7 kelompok tani dan Nagori Panambean 22 responden yang terdiri dari 4 kelompok tani. Luas tanah yang dikelola tidak merata, dimana luas tanah yang paling luas adalah Marjandi Pisang 0,95 ha. Rata-rata luas lahan yang dikelola adalah 0,72 ha.

2)        Penguasaan lahan

Penguasaan lahan sawah sebagai milik 31 KK, sewa 20 KK dan sebagian milik dan sewa 19 KK.

3)        Pola Tanam dan Varitas

Ada dua jenis pola tanam yang dilakukan, yaitu sebaian besar padi – bera – padi dan sebagian kecil padi – ikan – padi.  Penelitian dilakukan untuk masa tanam Maret – Juli 2008.

4)        Sistim Penyuluhan

Sistim penyuluhan yang dilaksanakan adalah penyuluhan dengan pendekatan metode massal, kelompok dan perorangan.

5)        Peran serta petani sasaran penyuluh

Pada penyuluhan partisipatif diharapkan petani lebih aktif mencari   informasi, tetapi pada kenyataannya petani sering tidak hadir dalam rapat- rapat yang dilakukan.

6)        Sumber penyuluhan

Secara umum penyuluhan dilakukan oleh PPL dan KCD dan  antar petani (swakarsa).  Dalam program intensifikasi ini Camat dan Pangulu juga aktif demikian juga pengurus P3A.

 

 

 

 

a)            Pesan Penyuluh  ( Program Intensifikasi Padi Sawah)

Program Intensifikasi terdiri dari beberapa

            Tehnologi budidaya Padi sawah dengan Model Pengelolaan Tanaman Terpadu yang dianjurkan, baik jarak tanam, benih, pengolahan tanah, sitim panen, pengendaliah Organisma Penganggu Tanaman dan pasca panen.

            Keaktifan petani mencari informasi

Keaktifan petani mencari informasi sangat dibutuhkan agar keberhasilan dapat dicapai, antara lai mengenai Tehnologi budidaya secara Pengelolaan Tanaman Terpadu dan juga pengadaan  Saprodi, tetapi dari hasil yang diperoleh petani masih kurang melakukan itu.

Sebagian petani, dalam pengambilan keputusan, mengikuti tahapan: identifikasi masalah, identifikasi potensi, perencanaan usaha dan mencari informasi tambahan. 

Teknologi budidaya yang diterapkan pada MT ini, untuk sebagian berbeda dengan teknologi budidaya sebelumnya; di antaranya:

1.        Biaya Sarana Produksi

Biaya sarana produksi MT 2008 lebih tinggi di banding dengan musim sebelumnya di Nagori Marjandi Pisang dan Panambean, sedangkan Pematang Panambean lebih rendah.

2.        Biaya Tenaga Kerja

Biaya tenaga kerja MT 2008, lebih tinggi di banding dengan musim sebelumnya di Nagori Marjandi Pisang dan Panambean. Sedangkan Pematang Panambean lebih rendah.

3.        Jumlah Produksi

Produksi MT 2008 lebih tinggi dari produksi musim tanam sebelumnya; dan produktivitas di ketiga Nagori tidak berbeda.

4.        Jumlah Penerimaan

Penerimaan petani MT 2008 lebih tinggi dibanding musim sebelumnya.  Peningkatan penerimaan lebih dipengaruhi peningkatan produktivitas dibandingkan harga.

b)              Perbandingan teknologi yang diterapkan Petani

1.        Perlakuan benih, pengolahan tanah, pengarian, pengadaan saprodi, pemupukan, pemanenan dan sistem pemasaran hasil pada MT 2008 lebih baik dibanding musim sebelumnya.

2.        Sistem jarak tanam masih biasa (tandur jajar); belum ada yang melakukan sistem penanaman Legowo.

3.        Dalam pengendalian organisme pengganggu tanaman, Petani secara umum masih mengutamakan pengendalian dengan memakai pestisida walaupun pada umumnya petani sudah mengetahui prinsip pengendalian hama terpadu.

c)              Penerapan Teknologi Intensifikasi

1.        Penggunaan sarana produksi

Penerapan teknologi diketiga Nagori tidak berbeda dimana secara umum tenaga kerja Wanita untuk mengolah tanah lebih sedikit dibanding dengan tenaga kerja Pria. Sedangkan penanaman, pemupukan, menyiang tenaga kerja Wanita lebih banyak dibutuhkan. Menyemprot dan berburu Tikus lebih banyak dibutuhkan tenaga Pria.

2.        Pemanenan

Cara pemanenan secara umum diketiga Nagori sama tetapi, besar upah panen lebih kecil di Nagori Marjandi Pisang dibanding dengan kedua Nagori lain.

d)             Hubungan penyuluhan dengan produktivitas usahatani

1.        Rata-rata produktivitas usaha tani ketiga Nagori tergolong tinggi, namun hubungan produktivitas dengan aktivitas penyuluhan, adalah: (a) dengan frekwensi petani mengikuti penyuluhan berhubungan sedang, (b) dengan proses pengambilan keputusan hubungannya rendah, dan (c) dengan perubahan teknologi hubungannya sedang. 

2.   Perbandingan biaya dan penerimaan

a.        Perubahan teknologi menyebabkan perubahan penggunaan faktor produksi. Semakin tinggi teknologi yang diterapkan maka semakin tinggi produktivitas usaha tani.

b.        Perbandingan biaya dan penerimaan; Perubahan biaya dan penerimaan usaha tani berhubungan dengan produktivitas.

 

C.           Analisis Sosial-Ekonomi Usaha Tani

1)        Rata-rata luas lahan dan perkiraan biaya lahan. 

Terdapat perbedaan luas lahan di ketiga Nagori, yang lebih luas di Nagori Marjandi Pisang 0,95 ha diikuti Panambean 0,75 ha dan yang paling rendah adalah Nagori Panambean.

2)        Jumlah dan biaya tenaga kerja

Sebagian besar potensi tenaga kerja belum produktif. Penggunaan mesin pengolahan tanah di Marjandi Pisang lebih banyak dibanding dengan kedua Nagori lainnya dan berhubungan dengan luas lahan. Tetapi, penggunaan tenaga kerja pria dan wanita tidak berbanding lurus dengan luas lahan.

3)        Rata-rata fisik dan biaya sarana produksi

Penggunaan sarana produksi yang berbeda mengakibatkan besar biaya juga berbeda. Harga dan jenis sarana produksi di ketiga Nagori tidak berbeda.

4)        Biaya produksi

Biaya produksi di Marjandi Pisang lebih besar yaitu Rp. 12.118.990/usaha tani, Nagori Panambean Rp.11.079.630/usaha tani, Pematang Panambean Rp.8.461. 280/usaha tani.

5)        Rata-rata produksi dan produktivitas

Perbedaan luas lahan mengakibatkan jumlah produksi berbeda. Akan tetapi, produktivitas usaha tani tidak berbeda.

6)        Rata-rata penerimaan, biaya dan pendapatan usaha tani

 Penerimaan Marjandi Pisang lebih besar dibanding dengan kedua Nagori lainnya, dimana biaya produksi selaras dengan penerimaan.

 

2.          Saran

 

a)            Teknologi budidaya tanaman yang diterapkan petani masih mengutamakan penggunaan sarana produksi yang diimpor walaupun petani sudah mengetahui teknologi alternatif spesifik lokalita. Hal ini mengakibatkan biaya produksi tetap tinggi dan berdampak terhadp lingkungan.   Sehubungan dengan hal tersebut disarankan perlu dilakukan penelitian lebih mendalam tentang perakitan teknologi budidaya tanaman yang dapat mengurangi penggunaan bahan-bahan impor dan menghasilkan produktivitas lebih tinggi serta ramah lingkungan.

b)            Aktivitas penyuluhan tidak berdampak langsung terhadap peningkatan produktivitas dan penerimaan usahatani hal ini disebabkan penyuluhan belum dapat merubah tingkah laku petani dalam pengelolaan usahatani, khususnya penggunaan sarana produksi dan pencurahan tenaga kerja; oleh sebab itu disarankan agar kegiatan penyuluhan dilaksanakan secara partisipatif dan dilaksanakan dengan  metode yang lebih bervariasi, seperti demonstrasi plot dan kunjungan usaha.

c)             Secara ekonomi usahatani  padi sawah sudah menguntungkan akan tetapi belum layak dikembangkan (1 > R/C < 2), hal ini karena usahatani lebih banyak menggunakan bahan-bahan yang dibeli dan tenaga kerja yang dibayar.  Oleh sebab itu disarankan agar petani menggunakan bahan-bahan organik lokal dan mencurahkan tenaga kerja dalam keluarga yang tersedia.  Hal ini sekaligus akan mengurangi pengangguran tak kentara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s