AGROMADEAR

 

Core Business Agromadear dalam Agribisnis

 

jef-simalungun1Jef Rudiantho Saragih

Dosen Agribisnis, Universitas Simalungun

 

Dibentuknya PD Agromadear oleh Pemkab Simalungun sekitar setahun yang lalu merupakan sesuatu yang strategis bagi pengembangan pertanian dan peningkatan kesejahteraan petani di Kabupaten Simalungun.  Latar belakang pembentukannya, tentu, didasarkan pada berbagai permasalahan yang dihadapi di bidang pertanian dalam arti luas, atau permasalahan dalam pengembangan agribisnis.  Dengan kata lain, Agromadear dibentuk untuk menjawab dan mengatasi masalah-masalah tersebut. 

Masalah yang jamak kita dengar dalam pembangunan pertanian di Simalungun anatara lain: fluktuasi harga produk pertanian primer;  kualitas, kuantitas, dan kontinuitas pasokan produk pertanian primer; ketersediaan dan harga input pertanian, kapasitas kelembagaan petani, minimnya litbang pertanian sebagai dasar perencanaan, dan banyak lagi.  Singkatnya, semua masalah itu adalah menjadi kendala dalam pengembangan agribisnis, yang juga selalu ditemukan pada aras nasional.

Sebelum mengusulkan masalah apa yang sebaiknya menjadi fokus dan prioritas Agromadear, saya ingin me-review konsep agribisnis yang menurut hemat saya dapat menjadi referensi untuk pengembangan agribisnis ke depan. 

Agribisnis diartikan sebagai “the sum total of all operations involved in the manufacture and distribution of farm supplies, production activity on the farm, storage, processing and distribution of farm commodities and items for them” (Drillon Jr., 1971). 

Dari pengertian itu, agribisnis merupakan suatu sistem yang dibangun oleh empat subsitem: subsitem hulu agribisnisnis (penyedia dan distribusi input dan alat-alat dan mesin pertanian); subsistem usahatani (aktivitas yang mentrabsformasikan input pertanian menjadi produk pertanian primer); subsistem agribisnis hilir (pemasaran produk pertanian primer, pengolahan produk pertanian primer menjadi produk antara dan/atau produk akhir); dan subsistem penunjang agribisnis (kegiatan yang mendukung tiga subsistem lainnya: perbankan, litbang, kebijakan pemerintah, penyuluhan, konsultansi, tarnasportasi, asuransi, dan lain-lain).

Melihat konsep agribisnis tersebut dan merujuk pada masalah yang kerap dihadapi petani, dimana fokus atau inti kiprah Agromadear sebagai badan usaha milik (pemerintah) daerah?  Berbicara mengenai fokus, tentu kita langsung teringat tentang kondisi pemasaran berbagai komoditas pertanian primer di Kabupaten Simalungun.  Misalnya, harga kubis/kol sangat rendah dan tidakditerima di pasar internasional, jeruk tidak dipanen karena harga jual yang sangat minim, hilangnya sentra jahe karena (salah satunya) masalah pemasaran, dan banyak lagi yang lain. 

Menurut hemat saya, fokus pertama Agromadear adalah memfasilitasi pemasaran (menjual) komoditas pertanian primer yang dihasilkan petani.  Jadi, bergerak di subsistem hilir agribisnis.  Kendalanya, untuk berbagai komoditi, apa yang dihasilkan petani kerap tidak dapat dijual.  Jadinya, Agromadear juga harus memfasilitasi petani agar mampu menghasilkan produk yang diminta pasar.  Intinya, bukan menjual apa yang diproduksi; tetapi memproduksi apa yang bisa dijual (diminta pasar). 

Dengan begitu, kiprah Agromadear juga dapat masuk ke subsistem usahatani, tapi dalam konteks sebagai fasilitator.  Menurut hemat saya, sebaiknya Agromadear tidak bertindak sebagai “petani” dengan “menanam dan memungut hasil” usahatani. 

Agar petani dapat memproduksi apa yang diminta pasar, jaminan ketersediaan input mutlak diperlukan.  Selama ini, aspek ketersediaan dan harga input tak kunjung terselesaikan.  Apakah Agromadear juga masuk ke susbsitem hulu?  Ya, sebagai mediator! 

Fokus kedua, bisa bersifat sekuen atau paralel, Agromadear dapat mengambil peran dalam fungsi pengolah.  Fungsi ini dapat berupa memfasilitasi pengembangan PKS Mini, pengolah bubuk kopi, lateks, dan sejenisnya.  Di sentra-sentra produksi, fungsi pengolahan ini menjadi strategis untuk menahan nilai tambah produk di dalam wilayah Simalungun. 

Yang menjadi alternatif adalah: apakah Agromadear membangun sendiri industri pengolah tersebut atau mengundang investor masuk ke Simalungun?  Jika yang pertama, bisa “membebani” anggaran Pemkab.  Yang ideal sebenarnya adalah yang kedua.  Agromadear memfasilitasi penyusunan studi kelayakan suatu industri pengolah untuk ditawarkan kepada investor. 

Saya kira, visi pembentukan Agromadear bukanlah bisnis semata, tetapi mencakup pemberdayaan.  Dia sangatlah berbeda dengan badan usaha milik swasta.  Bagi usaha swasta, tujuannya memperoleh untung sebesar-besarnya.  Alatnya adalah petani, pemasaran, dan pengolahan.  Bagi BUMD visinya adalah bisnis dan pemberdayaan petani.   Tujuannya, membantu petani meningkatkan kesejahteraannya. Alatnya, pemasaran, pengolahan, mediasi, dan fasiltasi.   

Petani menunggu kiprah Agromadear.  Kopi “sigalar-utang”, jeruk raya, kakao dan karet di Sindarraya dan Nagori Dolog dan banyak lagi potensi Simalungun; menunggu sentuhan Agromadear.  Hemat saya, perkuat jajaran untuk memfasilitasi petani memproduksi apa yang diminta pasar.  Sebaiknya, tenaga petugas lapangan yang handal perlu ditingkatkan.  Selamat bekerja!

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s